Ditemani secangkir kopi luwak kesukaan, berjam jam di depan laptop atau sekedar melihat layar handphone yang semua chat isinya chat grup. dengan ala sekedar nya kadang nimbrung. Terlepas dari semua itu ada hal yang akan di bahas di tulisan ini. dari history buat konten konten blog sebelumnya si banyak yang komen kalau tulisan nya kurang panjang. Tapi menurut ku bukan dari panjang atau pendek bahan bacaan nya atau banyak sedikit bacaan nya, tapi apakah bacaan nya ada isinya. Ada intisari yang bisa diambil dari sebuah tulisan.
Sesuai judulnya, mungkin aku akan menceritakan dari awal aku terlahir ke dunia. Mungkin tulisan ini sebagai celebrate juga umur ku yang ke-20. apa yang sudah terjadi? moment apa saja yang sudah ku rasakan? pengalaman apa yang sudah ku rasakan?.
Sebagaimana mesti nya manusia terlahir ke dunia, dimulai dari perencanaan ngehe dua orang berlainan jenis kelamin untuk mempunyai anak. Yaitu sekarang ini kedua orang tua ku. *aku berharap si mereka ga membaca blog ini. Karna yang kita tahu kan orang tua juga malas buka internet gini. Kecuali kalo mereka memang orang tua kekinian. Tapi menurut ku si engga. memang kata kata diatas agak sedikit kasar ya. semoga yang baca sudah akil baligh semua jadi paham lah. Aku lahir 2 Maret 1998, Lahir di bidan. bukan di rumah sakit. Alasan nya cuma satu kenapa aku ga lahir di rumah sakit.
ada satu moment pada saat aku menginjak SD. Karna pada saat SD itu rasa ingin tahu nya tinggi jadi aku bertanya kepada mama
'ma kenapa heldi lahir nya di bidan? kenapa ga di rumah sakit? .
mama menjawab 'karna mama gamau bayi mama nanti tertukar sama bayi lain. kan di rumah sakit banyak yang ngelahirin, ga mama aja, kalo di bidan kan enak dikit aja jadi bidan nya juga fokus.'
Mendengar hal itu aku berpikir. iya juga ya. Tapi kalo aku tertukar, tertukar sama siapa ya. mungkin kalo aku sudah di tangan orang tua yang beda nama ku jadi beda. bukan Heldi Hariadi nama ku yang sekarang. bisa aja nama ku jadi BAMBANG atau SUMANTO kali ya. aku juga tumbuh kembang nya berbeda. Bisa aja lebih kurus dari pada sekarang ini dan orang tua ku yang tertukar ini dua dua nya gemuk .atau mungkin mama ku gamau tertukar sama bayi yang lebih jelek dari aku.
Banyak sekali kemungkinan yang ku pikir dari jawaban mama tadi. sampai sekarang juga aku gatau pasti nya. Dan kata nya kenapa alis ku tebal seperti sekarang itu adalah pup pertama yang keluar itu langsung di oles ke alis.
Nah kalo yang ini mulai ga masuk akal.
Ada di saat suatu ketika keluarga berkumpul, tepat nya pada saat lebaran tiba. Tak tahu kenapa bahasan nya pada saat itu alis ku. Aku pun bingung canggung tak karuan.
'iya itu aku dulu yang olesin pake cotton bud ke alis nya Heldi' sahut salah satu tante ku
'iya sebelah nya aku itu yang olesin, maka nya jangan berani sama orang tua' sahut salah satu tante ku yang lain nya.
dan mama ku juga membenarkan pernyataan tersebut alasan nya adalah karna ada cerita adat yang begitu dan mama ku mempercayai nya.
angggap aja di tulisan ini tante inun dan tante aned nama nya.
'iya betul itu hel tante inun sama tante aned yang olesin maka nya beda sebelah kan'
selama ini aku juga ga pernah memperhatikan alis ku si tapi dari cerita itu bermula aku mulai memperhatikan sedikit demi sedikit. biasa nya sambil ngaca dalam hati berkata 'apa beda nya ya?' itu sambil pegang pegang alis, yang dulu bekas dioles pup. agak jijik si tapi misteri ini belum terpecahkan. hampir sekitar setengah jam aku di depan kaca baru sadar memang ada yang beda. Kalo dilihat sekilas memang ga terkihat beda nya. Mungkin pada saat itu tante inun lagi ada masalah sama suami nya gara gara ga di kasih uang bulanan jadi pelampiasan nya ke alis ku. cukup miris jadi nya aku sama alis ku sendiri.
selebih nya aku tumbuh dalam keadaan normal. mengikuti proses bayi dan berubah menjadi anak anak pada umumnya.
berlanjut lah aku masuk TK. dulu jaman aku TK gada yang nama nya PG dan PAUD seperti sekarang ini. kayanya kalo sekarang ini orang tua pengen banget anak nya cepet cepet sekolah. Menurut ku orang tua yang pengen cepet cepet anak nya sekolah itu terlalu perfeksionis. terlalu memaksakan anaknya harus cepat belajar. harus bisa baca, tulis dan sebagainya. ga perlu dipaksakan karna belajar itu proses. sebagai contoh misalnya, siswa yang sudah duduk di bangku SMA, pernah mengalami SMP dahulu. berproses sebagai mana mestinya.
itu sedikit pendapatku saja. kalian boleh setuju atau tidak. Karna manusia diciptakan untuk berpendapat.
Di TK aku pernah mengalami moment. itu saat aku baru pertama kali diberi uang jajan. Saat itu aku diberi 1000 rupiah. karna baru pertama kali aku juga bingung sama uang. dalam hati aku berkata. apa yang harus ku lakukan dengan uang ini. aku juga gatau uang ini buat apa. yang paling simpel nya pada saat itu ada tukang jual telor yang digulung dan pake gulung nya pake tusuk sate. gatau si nama pasti nya itu makanan apa. aku menghampiri penjualnya dan tak berkata apa apa. lalu si penjual nya menyambar. 'mau beli berapa de?'
karna aku tak tahu apa yang harus ku lakukan pada saat itu, aku hanya menjulurkan uang tadi kepada si penjual. yang sekarang bahkan aku sudah lupa wujudnya seperti apa. Yang pasti untuk si penjual yang baca blog ini saya sangat berterima kasih karna sudah diajari uang.
lalu ketika aku menjulurkan uang itu si penjual bertanya. 'mau beli 1000 atau 500 de?'
sekitar 10 menit aku diam dan aku berkata random.
'beli 500 bu' jawab ku.
penjualnya pun memberikan jajan nya dan memberi kembalian uang nya.
hari pertama memang masih berjalan lancar.
kejadian terjadi dihari kedua. karna pada saat itu aku belum mengerti uang dan pada hari sebelumnya setiba nya di rumah aku berasumsi bahwa jika kita membeli suatu hal kita akan mendapatkan barang dan uang kita kembali walaupun dengan pecahan uang yang berbeda.
hari kedua aku datang ke penjual yang sama. kebetulan dia berjualan lagi di depan TK ku. aku menghamipirinya dan berkata 'bu aku beli 1000'.
'iya de sebentar ya saya goreng telornya'
setelah telornya di goreng dan jajan nya diberikan pada ku akupun kebingungan. alis ku pun mengernyit.
'loh bu uangnya mana? ko cuma telor goreng nya aja?' tanya ku dengan muka bingung anak kecil.
'loh uang apa? kan itu telornya udh ibu kasih.'
perasaan ku saat itu hanya seperti anak kecil yang dibodohi oleh orang dewasa dan aku tak bisa berbuat apa apa karna masih anak kecil ingusan.
'kan kemarin saya beli disini, saya dapat telor sama uang saya bu tapi ko sekarang cuma dapat telor aja' aku melanjutkan percakapan.
ibu nya pun tertawa dan menjelaskan.
satu hal yang bisa diambil dari cerita ini bahwa aku sudah bisa hitung menghitung uang sebelum masuk SD. Setidaknya aku lebih maju satu langkah.
Jangan pernah takut untuk ditertawakan orang lain jika sedang belajar. Karna belajar itu adalah proses. Seperti halnya, kita ibaratkan saja seperti download file dari internet. ga mungkin kan kita download langsung 100%. pasti ada proses nya, dimulai dari 0% berjalan ke 1% dan hingga akhirnya sampai selesai.
Mungkin sampai sini dulu. Nanti mungkin aku buat part 2 nya.
ini pasti ibu-ibu telornya yg duduk sebrang ayunan kan? wkwk
ReplyDelete